Ustadz Supriyadi alias Mas Pri, salah seorang pendiri SAR Hidayatullah berbicara di depan para ustadz dan santri Hidayatullah di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Selasa (31/05/2022).* [Foto: Waqqosh/MCU]


ar-riyadh.com – Salah seorang inisiator dibentuknya Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Ustadz Supriyadi -akrab disapa Mas Pri-, membakar semangat para santri Hidayatullah Gunung Tembak baru-baru ini.

Dalam ceramahnya yang disampaikan berapi-api di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Mas Pri mendorong para santri agar memiliki wawasan global.

Selain para santri, Mas Pri juga mendorong para ustadz dan segenap kader serta pengurus Hidayatullah agar memiliki wawasan dan komunikasi luas ke level dunia.

Membuka komunikasi di tingkat internasional, kata Mas Pri, sudah sangat dibutuhkan Hidayatullah. “Dengan gerakan dakwahnya, insya Allah!” ujarnya di depan Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, para pembimbing Hidayatullah, para ustadz, dewan guru, serta ratusan santri dan warga Gunung Tembak.

Oleh karena itu, Mas Pri menekankan pentingnya proses untuk menuju level global. Proses tersebut, antara lain, pesan Mas Pri yaitu dengan mengatur waktu sebaik mungkin.

Para santri dan pengurus Hidayatullah ditekankan untuk memperhatikan hal ini. “Manajemeni waktu,” tegas Wakil Ketua Kwarnas/Ketua Komisi Pembinaan Anggota Muda Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2023 ini –jabatan itu telah digantikan oleh Prof. Dr. S. Budi Prayitno, MS per 19 November 2021, red.

Ia mencontohkan, santri-santri Hidayatullah pada 10-20 tahun lalu, kini telah berkiprah pada segmen berbeda di Hidayatullah. Bukan lagi sebagai santri di bangku sekolahan atau madrasah, tapi para pengurus Hidayatullah pada berbagai amanah.

Begitu pula para santri Hidayatullah di masa kini, kelak mereka akan berkiprah, menjadi kader penerus estafeta perjuangan Islam lewat Hidayatullah. Inilah yang dinilai menjadi tugas berat para orangtua dan pengurus Hidayatullah saat ini. Bagaimana melahirkan para santri sekarang sukses berkiprah kelak.

“Keberhasilan kalian santri-santri terbaik (saat ini), itu jawaban. Manfaatkan waktu sebaik-baik mungkin. Jangan menyesal dibatasi main HP,” pesannya kepada para santri yang tampak semangat menyimak ceramah pada Selasa malam (31/05/2022) itu.

Ia juga berpesan kepada para santri dan pengurus Hidayatullah agar terbiasa dalam zona tidak nyaman. Tumbuh kembanglah dalam ketidaknyamanan, sebab di situlah proses penting dalam kaderisasi.

“Enggak ada pemimpin-pemimpin besar yang lahir dari kenyamanan,” tegasnya.

Ceramah Mas Pri berlangsung dalam tempo hampir satu jam. Dimulai pada bakda maghrib, jeda untuk shalat isya berjamaah, dan dilanjutkan bakda isya. Usai ceramahnya, banyak ustadz dan santri yang bersilaturahim langsung dengan Mas Pri, baik sekadar bersalaman dan jabat tangan, maupun meminta nasihat khusus, atau berdialog singkat.

Kunjungan Mas Pri ke Gunung Tembak disambut hangat pula oleh pegiat dan pengurus SAR Hidayatullah dan Sako Pramuka Hidayatullah di Kaltim. “Terakhir ke sini (Gunung Tembak sebelumnya) empat tahun lalu,” ujar Mas Pri saat berbincang dengan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah di Gunung Tembak, Selasa pagi (31/05/2022).* (SKR/MCU)

Sumber – ummulqurahidayatullah.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *