[Ilustrasi] Salah seorang tamu peserta Dandito Cup 2022 ceramah di mimbar Masjid Ar-Riyadh, Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan (30/10/2022).* [Foto: Istimewa/MCU/LPPH]


ar-riyadh.com – Helatan akbar kejuaraan Horsebow Archery Dandito Cup 2022 usai digelar Ahad (30/10/2022) lalu. Suasana ramai namun berbalut persaudaraan (ukhuwah) intim serta pemandangan kampus Gunung Tembak yang alami tetap dirasakan oleh sebagian peserta acara Dandito Cup tersebut.

Setidaknya itulah yang dialami oleh Abdul Khair Ginting, peserta Horsebow Archery (HBA) yang berasal dari Magetan, Jawa Timur.

Testimoni itu disampaikan Khair di hadapan jamaah yang mendaulatnya untuk berta’aruf di Masjid Ar-Riyadh Kampus Induk Pesantren Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, bakda Maghrib.

“Bersyukur kepada Allah bisa berada dan bersilaturahim di tempat ini. Terima kasih banyak dengan penyambutan dan suasana luar biasa,” ucapnya, Ahad (30/10/2022) itu.

Pemenang HBA Kategori Dandito Style ini menyebut norma Islam dijunjung tinggi di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

“Seperti di (Al-Fatah) Temboro yang juga belajar menghidupkan suasana seperti zaman baginda Rasulullah,” lanjut Khair menceritakan pondok pesantren yang ditinggalinya.

Lain lagi kisah Supri al-Japari asal Bali. Ia juga mengaku pertama kali bertandang ke Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Meskipun sudah beberapa kali berkunjung ke Kalimantan Timur.

Kepada jamaah Masjid Ar-Riyadh, Supri memperkenalkan diri sebagai tukang busur panahan sejak tahun 2015 silam. Kini, hari-harinya disibukkan membuat busur dengan alat gurinda dan semacamnya.

“Jadi tadi sempat bingung karena dikira salah orang. Saya bukan ustadz, cuma tukang pembuat busur saja. Kalau dulu tukang meubel dan tukang ukir. Jadi biasanya pegang gurinda ini sekarang disuruh ngomong di podium,” jelasnya tersenyum.

Rupanya, meski produk lokal tapi busur buatan Supri bukan hanya diminati dan tersebar di seluruh Indonesia, tetapi sudah merambah hingga ke luar negeri. “Ke Malaysia, Kanada, Jerman, Swiss, dan Italia. Agak banyaklah,” sambungnya lagi.

Kepada para santri, Supri juga berpesan bahwa keterampilan memanah itu yang terpenting adalah niatnya. Termasuk untuk busur latihan bisa memakai apa adanya saja. Bagi pemula, busur dari bambu pun cukup untuk dipakai belajar memanah.

“Intinya fungsional, bisa melempar anak panah. Belum tentu busur yang mahal lebih besar pahalanya daripada busur murah, tapi niatnya,” ucap Supri menasihati.

Selain menjelaskan panjang lebar tentang busur dan yang berkaitan memanah, Supri juga mengajak siapa saja yang ingin mendalami cara pembuatan busur yang baik.

Baginya membuat busur itu mudah, semua orang bisa. “Bedanya busurnya layak dijual atau tidak, itu saja,” guyonnya diiringi tawa jamaah Masjid Ar-Riyadh. “Mau belajar silakan datang. Tanpa biaya, siapkan saja uang tiket dan sangunya. Bikin sendiri busurnya, nanti diajari. Setelah itu bawa pulang sendiri. Gratis,” pungkasnya.* (Abu Jaulah/MCU) ummulqurahidayatullah.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *